Jadi freelancer itu kayak punya dua sisi mata uang. Satu sisi, kamu bebas ngatur waktu. Sisi lain, batas antara "kerja" dan "hidup" sering kabur. Jam 9 malam kamu masih mikirin revisi klien, atau malah jam 2 siang kamu bengong karena nggak ada mood. Nah, di titik inilah hobi kreatif jadi penyelamat. Bukan cuma buat mengisi waktu luang, tapi juga buat jaga kewarasan.
Dua hobi yang paling sering gue lihat di komunitas freelancer adalah main musik dan coret-coret ide (entah itu nulis jurnal, bikin sketsa, atau mind mapping). Keduanya kelihatan sepele, tapi efeknya ke otak freelancer itu beda banget. Jadi, mana yang lebih cocok buat kamu? Kita bandingkan pelan-pelan.
Baca juga: Baru Merantau? Jangan Ulangi 4 Salah Kaprah soal Hobi Kreatif
Main Musik: Terapi Aktif buat Otak yang Lagi Mumet
Kalau kamu tipe yang gampang stres karena deadline numpuk, main musik bisa jadi pelarian yang sehat. Nggak perlu mahal. Gitar akustik bekas 300 ribu, atau aplikasi piano di HP, udah cukup. Yang penting kamu ngerjain, bukan cuma dengerin.
Gue sendiri mulai belajar gitar pas umur 25, telat banget kata orang. Tapi ternyata nggak ada kata telat buat hobi. Awalnya jari sakit, chord G susah, tapi setelah seminggu, ada aja progres kecil yang bikin nagih. Efeknya ke kerjaan? Lumayan. Setelah main gitar 20 menit, kepala gue yang tadinya penuh sama revisi logo klien jadi lebih plong.
Kenapa bisa gitu? Karena main musik memaksa kamu fokus ke satu hal: bunyi. Nggak ada notifikasi email, nggak ada chat klien. Cuma kamu dan alat musik. Ini semacam meditasi aktif.
Langkah awal buat freelancer yang mau coba main musik:
- Pilih satu alat yang paling gampang diakses. Gitar, keyboard, atau bahkan kaleng bekas buat perkusi.
- Target 15 menit sehari. Jangan langsung 2 jam, nanti malah males.
- Belajar satu lagu sederhana yang kamu suka. Misal "Twinkle Twinkle" atau riff lagu indie favorit.
- Rekam pakai HP. Nanti kamu bisa dengerin progresnya dan bangga sama diri sendiri.
Yang penting jangan perfeksionis. Freelancer udah terlalu sering dituntut sempurna sama klien. Di hobi, biarin aja sumbang.
Coret-coret Ide: Murah, Fleksibel, Tapi Butuh Disiplin
Di sisi lain, ada hobi coret-coret ide. Ini bukan cuma buat seniman. Freelancer penulis, desainer, programmer, bahkan akuntan bisa manfaatnya. Modal awalnya cuma buku tulis 10 ribu dan pulpen.
Bedanya sama main musik, coret-coret ide itu pasif-aktif. Kamu nggak perlu bergerak fisik, tapi otak tetap jalan. Kadang malah terlalu jalan, sampai susah berhenti. Gue pernah niatnya cuma nulis 3 baris di jurnal, eh jadi 3 halaman curhat soal klien yang minta revisi ke-12.
Efeknya ke pekerjaan freelancer? Lumayan buat ngeluarin uneg-uneg. Tapi kelemahannya, coret-coret ide bisa berubah jadi kerjaan kalau kamu nggak hati-hati. Misal, niatnya bikin sketsa buat seneng-seneng, eh malah kepikiran "ini bisa jadi portofolio nggak ya?"
Hobi yang bagus buat freelancer adalah hobi yang nggak bisa dimonetisasi. Karena begitu bisa dijual, dia berubah jadi beban.
Jadi kalau kamu pilih jalur ini, tetapkan aturan main. Misal, jurnal ini cuma buat coretan bebas, nggak boleh dipublish. Atau sketsa ini cuma buat konsumsi pribadi.
Langkah awal buat yang mau coba coret-coret ide:
- Siapkan buku dan pulpen yang kamu suka. Jangan pakai yang bikin tangan pegal.
- Tulis 3 hal yang bikin kamu kesal hari ini. Boleh receh, boleh serius.
- Gambar bebas selama 5 menit. Nggak usah bagus, yang penting jadi.
- Simpan di tempat yang nggak keliatan klien. Ini penting biar kamu bebas.
Head-to-Head: Mana yang Lebih Cocok Buat Freelancer?
Oke, sekarang kita bandingkan langsung. Dari segi biaya, coret-coret ide menang telak. Dari segi efek relaksasi, main musik lebih kuat karena melibatkan fisik dan bunyi. Dari segi fleksibilitas waktu, coret-coret ide bisa dilakukan sambil nunggu render video atau nunggu balasan email. Main musik butuh setidaknya duduk dan pegang alat.
Tapi ada satu faktor yang sering dilupakan: mood awal. Kalau kamu lagi super capek dan males gerak, main musik terasa berat. Coret-coret ide lebih ramah. Sebaliknya, kalau kamu lagi gelisah dan butuh saluran energi, main musik lebih memuaskan.
Gue sendiri akhirnya pakai keduanya, tapi di waktu yang beda. Pagi atau siang, pas energi masih ada, gue main gitar. Malam, pas otak udah capek tapi tangan masih pengen gerak, gue coret-coret ide. Nggak harus pilih satu, kok.
Gimana Kalau Kamu Tipe Freelancer yang Gampang Bosan?
Ini masalah umum. Freelancer sering kerja di proyek yang beda-beda, jadi otaknya terbiasa dengan variasi. Kalau hobinya cuma satu, bisa cepat bosan. Solusinya, gabungkan keduanya dalam satu sesi.
Contoh: kamu main musik 10 menit, terus duduk dan coret-coret ide tentang lagu yang baru kamu mainkan. Atau sebaliknya, kamu tulis lirik sederhana, terus coba nyanyikan sambil main alat. Ini bikin hobi terasa baru terus.
Yang penting, jangan jadikan hobi sebagai kewajiban. Freelancer udah punya cukup kewajiban dari klien. Hobi itu tempat kamu jadi diri sendiri, bukan tempat kamu ngejar target.
Jadi, mau pilih main musik atau coret-coret ide? Nggak ada jawaban yang salah. Coba aja dulu 15 menit hari ini. Kalau besok kamu masih pengen, berarti itu hobi yang cocok. Kalau nggak, cari yang lain. Waktu luang kamu terlalu berharga buat dihabiskan buat hal yang nggak bikin kamu hidup.